Pelajaran Berharga dari Surti



Gak jarang ketika menonton film bergenre cinta, aku sering disuguhin dengan adegan kisah cinta antara seorang siswa bodoh dengan seorang siswi cantik juara kelas. Biasanya, si siswa bodoh tersebut digambarkan dengan penampilan yang acak-acakan, wajahnya miris, bau badannya amis kayak pipis landak, dan hobinya juga gak kalah miris, si cowok suka pipis sambil shuffle-an. Berbeda dengan si siswi yang biasa digambarkan dengan penampilan dan perwatakan yang tenang, santai, dan menawan.

Kalau di film-film, biasanya, si siswa bodoh tersebut langsung jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat sosok bidadari tak bersayap yang tak lain dan tak bukan adalah si siswi pintar tersebut. Walaupun jatuh cinta pada pandangan pertama, satu-satunya yang bisa dilakukan siswa tersebut hanyalah bungkam dan menikmati keindahan senyumnya dari kejauhan. Mau diungkapin susah. Salah-salah malah di gaplok pake buku kumpulan rumus matematika.

Aku juga pernah ngalamin hal serupa yang menimpa si siswa bodoh tersebut.

Waktu kelas 1 SMA, pas matrikulasi (penyesuaian materi pelajaran sebelum masuk tahun ajaran) aku merupakan salah satu siswa yang masuk ke dalam kelas unggulan. Kelas unggulan berbeda dengan kelas biasa. Selain fasilitasnya berbeda, cara belajar dan pola pikir siswa-siswi yang ada di dalamnya juga berbeda. Siswa-siswi disini terlihat lebih kompetitif dalam persaingan untuk menjadi yang nomor satu. Jadi bisa dibilang semua siswa dikelas unggulan ini siswa yang pintar, kecuali satu orang. Itu aku sendiri. Cuman aku sendiri siswa goblok nan jahannam yang masuk ke dalam kelas unggulan. Seandainya ada seorang siswa yang harus dibuang ke kelas lain, mungkin akulah yang bakal jadi kandidat terkuat yang akan dibuang. Keadaanku gak terlalu berarti di dalam kelas tersebut, aku cuman ngabis-ngabisin oksigen yang ada di kelas. Keberadaanku ibarat taik ayam yang dikelilingi berlian.

Sebagai siswa baru, kami disuruh memperkenalkan diri dengan berdiri di meja masing-masing dan dimulai dari mejang yang ada di ujung sebelah kanan. Satu-persatu siswa memperkenalkan dirinya. Sungguh, ini kegiatan yang membosankan.

Semua suara siswa yang memperkenalkan diri terdengar membosankan dan terlihat seperti pengakuan seorang terorisme yang sedang dimintai keterangan nama, alamat, dan motif kenapa mau masuk di sekolah ini oleh petugas densus 88. Sampai akhirnya, ketika aku mendengar suara yang beda dari suara-suara yang sebelumnya. Suara ini terdengar lebih lembut dan halus. Ternyata itu suaranya Surti si siswi tamatan Mts yang sama sepertiku. Mataku langsung terpanah, jantung berdengup kencang saat melihat sosok Surti yang sebenarnya. Jangan-jangan ini yang disebut dengan jatuh cinta pada pandangan pertama. 

Hari-hari membosankan berada di kelas unggulan sepertinya akan lenyap setelah kehadiran Surti.

Pas jam istirahat, seperti murid lainnya, aku mendatangin satu-persatu meja lainnya buat ngajak kenalan. Meja Surti lah yang menjadi prioritas utama yang harus aku datangin. Kapanlagi bisa kenalan dengan cewek secantik Surti.

Berkat ngedatangin mejanya Surti, aku jadi tau dimana Surti tinggal, apa pelajaran kesukaannya (yang ini gak penting cuman basa-basi) yang lebih hebatnya, aku berhasil mendapatkan nomor telepon-nya. Yeah!

Semenjak perkenalan dengan Surti, hidupku di kelas menjadi sangat bahagia. Aku gak perlu capek-capek minum obat penghilang rasa pusing tiap kali belajar fisika cukup melihat wajah Surti rasa pusing langsung minggat.

Pulang ke rumah, biasanya aku habiskan waktu dengan tiduran hingga menjelang sore tiba. Sorenya, bangun, makan, nonton naruto, lalu kembali tiduran di kamar. Malamnya gitu juga. Bangun-> makan-> tidur-> berak. Bangun-> makan-> tidur-> berak, begitulah rutinitasku sehari-hari.

Untuk hari ini berbeda. Pas pulang ke rumah, aku buru-buru masuk kamar untuk memikirkan apa pesan pertama yang akan aku kirim ke Surti nanti malam. Soalnya, sebelum meninggalkan ruang kelas, aku janji buat nge-sms Surti malamnya. Aku ingin Surti membayangkan diriku sebagai orang yang humoris pada pesan pertama yang aku kirim. Aku mulai menyusun topik pembicaraan-pembicaraan yang lucu buat di obrolin sepanjang malam bareng Surti. Tapi sialnya, aku gak nemuin satu topik pun pembicaraan yang lucu. Daripada ingkar janji sama Surti, malamnya aku mengirimkan sebuah pesan yang sangat simpel yang isinya cuman ucapan selamat malam dan sebuah pertanyaan.

"Selamat malam Surti. Ini aku Zali. Oh iya, besok ada PR gak, eaaa....?"

5 menit kemudia Surti membalasnya.

"Malam juga, Zali. Ini Zali... Zali yang mana, ya?"

Senyap.

Aku lupa kalau pas pertama kali kenalan cuman ngenalin nama lengkapku gak dibarengin dengan nama panggilan. Daripada mati dengan rasa malu sebagai cowok yang gak dikenali oleh calon gebetannya, aku pun membalas pesannya kembali.

"Ini aku lho, Rizali. Kalau dirumah aku dipanggilnya Zali. Ini aku yang tadi siang janji mau sms kamu malemnya."

Surti kembali membalasnya.

"Oh... Rizali yang tadi siang buat janji. Aku tau... aku tau, yang anaknya item-item gitu, kan? Yaudah, ada apa, mau ngomong apa?"

Selain awalnya gak kenal, dengan teganya Surti nandain aku dengan warna kulit yang kehitam-hitaman. Untung aja tadi Surti gak bilang gini, " Oh.. ini Rizali yang anaknya item-item kayak taik ayam itu, ya?"  Ngelihat respon Surti barusan, aku jadi gak selera lagi buat sms-an. Daripada salah ngomong yang negbuat aku malu sendiri, mendingan ngirim sms yang simpe.

"Iya, ini aku Rizali yang item-item itu. Oh iya, besok ada PR apa?"

"Besok gak ada PR. Kita kan cuman matrikulasi. Itulah makanya pas guru ngomong dengerin jangan gak dengerin."

Mampus! *Nelen HP*

Semenjak insiden menjijikkan tersebut, aku jdi hati-hati kalau bertanya apalagi kalau ngajak ngobrol Surti dari sms. Tapi, semenjak insiden sms tolol tersebut, frekuensi sms bareng Surti malah semakin meningkat. Inilah yang disebut dengan kebodohan membawa keberuntungan. Aku jadi makin deket dengan Surti. Aku jadi tau apa yang dia suka dan apa yang dia enggak suka.

Responya pun beragam tiap kali aku sms dia. Kalau aku sms pas dia lagi sibuk belajar, maka dia akan membalas "Ntar, ya. Aku lagi belajar. Kamu belajar juga, ya. Nanti kalau udah siap aku sms luan." Itu kalau lagi belajar. Kalau aku sms dia pas lagi ngeden berak di kamar mandi, maka dia akan membalas "Ntar, ya. aku lagi berak. Siap cebok aja kita lanjut." Yang ini bohongan.

Gak sedap rasanya kalau udah lama sms-an tapi gak saling gombal-gombalan. Oke, malam ini aku berencana buat gombalin dia. Rencananya aku mau gombalin Surti dengan menggunakan teori-teori alamiah agar aku terlihat seperti cowok yang cerdas dan intelektual dimata Surti. Gini isi gombalannya: 

"Dear Surti.
     Aku dan kamu itu ibarat sebuah atom. Kita berdua tidak bisa dipisahkan. Kita berdua nyata. Jika atom tidak bisa dibagi-bagi, maka seperti itulah rasa cintaku padamu. rasa cintaku tidak akan pernah terbagi-bagi, apalagi untukmu."

Berkat teori Dalton tentang atom, gombalan berdasarkan teorinya ini sukses aku buat. Sebuah gombalan yang dimataku terlihat romantis, manis, dan amis, justru menjadi boomerang bagi diriku sendiri. Beberapa kata yang aku tulis ini salah total karena aku menulisnya tanpa memperhatikan kelemahan dan kelebihan teorinya.

Kalau Dalton baca tuh gombal bisa mati gemes dia.

30 menit telah berlalu Surti tak juga membalas sms gombalan yang aku kirim. Sepertinya ada hening yang panjang diantara kami berdua. Sampai akhirnya, ketika aku menemukan layar hp kedap-kedip yang menandakan masuknya sebuah pesan. 

"Dear Rizal.
     Makasih udah ngirimin aku sms gombalan. Tapi sebelumnya aku mau ngasih tau dulu, kalau kimia pelajaran favoritku. Dan sms gombalanmu itu banyak kejanggalan di dalamnya, aku mau benerin dulu ya.
        Pertama-tama, teori yang kamu tulis itu teorinya Dalton. Teori itu punya banyak kelemahan. Dalton bilang kalau atom tidak dapat dipisah-pisah. Asal tau aja ya, ketidakterpisahan atom itu terbukti salah, karena, atom dapat dibagi lagi menjadi proton, neutron, dan elektron. Namun atom juga merupakan partikel-partikel kecil yang sangat berpengaruh dalam reaksi kimia...."

Mampus.
Aku bengong.
Sesak berak.

Isi sms itu semuanya adalah pembenaran sms gombal aku oleh Surti. Hebat, sekarang dia bikin seolah-olah sms yang aku kirim ke dia itu adalah tugas kimia yang bakalan dia koreksi. Bagus.

Ini adalah gombalan ilmiah pertamaku dan aku bakal cacat secara psikologis setelah membaca balasan dari Surti. Thanks Surti.

Semenjak itu, aku menjauh dari Surti. Sumpah, demi paha Miyabi dan dadanya Nikita Mirzani, kami mungkin bisa bersatu. Surti di didik agar menjadi ilmuan, aku di didik agar menjadi mahluk mutan. Surti beradab, aku biadab.

Lagipula, Surti merupakan model cewek yang alim, rajin sholat, sukanya belajar, sopan dan juara kelas. Surti merupakan tipe-tipe orang yang mematikan handphone selama ujian dan memilih mengurung diri dikamar belajar seharian. Bagi Surti, cinta itu gak terlalu penting yang terpenting itu adalah belajar. Pelajaran nomor satu, dan Surti lebih suka menjadi "Berlian diantara mutiara" ketimbang "Berlian diantara lumpur"

Dapat dikatakan: Aku dan Surti ibarat langit dengan cacing tanah.

Sedangkan aku, aku orangnya gembel, cuek, cengengesan, malah dekil lagi. 

Berkat Surti aku jadi belajar banyak. Gak semuanya cewek cantik, pintar, dan juara kelas cocok dijadikan pacar. Karena, dalam berpacaran, kecantikan, dan kepintaran nomor dua, kecocokan lah yang utama. Cinta gak cuman tentang kecantikan, dan kepintaran semata, tapi juga tentang kecocokan dan mau mengalah antara satu dengan yang lain.

Thanks Surti, you taught me a lot.


Previous
Next Post »

3 comments

Write comments
Tuesday, 15 April, 2014 delete This comment has been removed by a blog administrator.
avatar
Tuesday, 15 April, 2014 delete This comment has been removed by the author.
avatar
Thursday, 23 July, 2015 delete

Tapi ini bukan surti yang sama yang dijadikan inspirasi untuk lagunya zamrud beberapa tahun lalu kan.?

Reply
avatar