Kenapa Mutusin Dia?

Semasa jomblo aku ngerasa kalau aku lebih menikmatinya yang namanya hidup. Kemana-mana bebas gak ada yang ngelarang mau ngapain aja juga bebas. Makan indomie aja terasa nikmat tanpa ada yang ngelarang. Ternyata, “JADI JOMBLO ENAK JUGA YAH. BEBAS. PIPIS SAMBIL LARI AJA GAK ADA YANG MARAHIN”.

Tapi percayalah, ada satu masa dimana kita merasa sepi, merasa sendirian saja. Sehingga kita berpikir kalau kita harus punya teman ngobrol special yang selalu ada buat kita dan dia itu adalah pacar.

Usahaku dalam menemukan pacar tidaklah mudah. Semua usaha udah kulakukan mulai dari deketin teman sekelas, sampek gombalin orang dari facebook yah walaupun endingnya kena cacian karena wajahku mirip jenglot. Deketin atau istilahnya PDKT ke cewek itu tidak segampang seperti yang tertulis di artikel yang beredar di internet. Kalau di artikel yang aku baca, PDKT itu gampang cukup lakukan hal yang menurut cewek itu so sweet, kasih perhatian ke dia, dan rajin-rajin sempetin waktu untuk dia. Masalahnya, cinta gak segampang teori yang ada. Semua imajinasi yang aku pikirkan saat membaca artikel tersebut bertabrakan dengan realita saat aku benar-benar melakukannya di dunia nyata. PDKT emang gak gampang. Selalu aja ada kendala yang muncul saat ingin menerapkan apa yang tertulis di artikel tersebut.

Dibatas ambang kejombloan-ku, aku bersyukur menjadi temannya si-Sabun. Sabun ini menjadi temanku sejak dibangku SMA. Berkatnya, aku diperkenalkan dengan seorang wanita yang katanya cakep dan so pasti single.

Kita sebut saja cewek ini namanya “Mutia”. Aku kenal dia melalui temanku si Sabun. Aku kenal dia melalui BBM. Berkenalan melalui BBM adalah hal ternekat yang pernah aku lakuin selama hidup. You know lah, berkenalan dengan cewek di BBM hasilnya lebih sering zonk. Keliatan cakep di foto pas ketemu nyesel mukanya jauh dari prediksi. Kalau di foto mirip Luna Maya, pas jumpa mirip Ely Sugigi.

Kami pun berkenalan.

Berawal dari chatting biasa ketika lagi ada waktu luang berubah menjadi chatting dia kapan aja meskipun lagi gak ada waktu luang. Kebiasaan-kebiasaan baru pun muncul kepada mereka yang sedang jatuh cinta. Aku, yang biasanya susah makan berubah menjadi sering makan walaupun lagi gak ada uang.

Singkat kata, kami pun jadian setelah beberapa minggu kenalan.

Awal pacaran itu menjadi waktu yang paling bahagia bagi setiap orang. Dia… dia… dia.. hanya ada dia di dalam pikiran. Menghabiskan waktu bersama pacar menjadi prioritas utama. Waktu senggang yang harusnya dipake buat nyicil tumpukan kolor yang membludak, kini hanya dihabiskan untuknya. Bisa dipastikan dalam beberapa bulan kamar kos ku bakal kebanjiran kolor busukku semua.

Selama pacaran kita pasti lupa dengan apa resiko yang bakal di hadapin nantinya. Rasa jenuh, bosan, kesetiaan yang mulai pudar, kita lupa semua itu. Karena prinsipnya orang jatuh cinta itu jalani aja dulu urusan selanjutnya biarkan waktu yang bantu jawab. Selain uji kesetiaan, tanpa kita sadarin ternyata pacaran itu juga bisa menjadi ajang tahan-tahanan mental. Itu terbukti saat aku bersama Mutia. Pacaran gak selamanya hanya ngobrol tentang kasih sayang, terkadang kita juga harus liat realita. Melihat jadwal kuliahku yang nggak ada habisnya, otomatis mengurangi waktuku untuk bisa berhubungan dengannya ataupun hanya sekedar membalas chat-nya saja. Otomatis ini membuat Mutia menjadi kesepian dan selalu ingin diperhatikan. Ini juga menjadi beban pikiran baginya dan beban mental bagiku meski hanya sedikit.

Beberapa bulan setelah berpacaran dengan Mutia aku mulai merasa kalau dia berubah menjadi orang yang awalnya toleran menjadi orang yang possesif dan terlalu insecure. Kebiasaan kuliahku yang padat jadwal membuatnya menjadi manja minta agar selalu diperhatikan. Pada dasarnya, minta diperhatikan merupakan sifat dasar wanita. Dia ingin selalu diperhatikan, dipuja, meskipun kadang terlihat menjengkelkan.

Kebiasaan manjanya itu tidak sinkron dengan jadwal kuliahku yang padat. Seharusnya dia juga ngerasakan gimana sibuknya kuliah. Tapi apa? Dia selalu saja merasa kesepian. Seharusnya rutinitas yang sibuk membuatnya lupa tentang apa itu kesepian. Ditambah lagi jika dia memiliki seorang sahabat yang menemaninya saat kuliah. Apalagi sahabat dapat menggantikan peran seorang pacar. Tapi rasa-rasanya itu tidaklah mempan untuknya.

Dan akhirnya, melihat sifatnya itu dengan mantap aku putuskan untuk menghubunginya dan mengatakan, “kayaknya, kita temenan aja ya.”


Kita putus.

Selama dengannya aku berada dibawah tekanan. Disatu sisi, aku harus fokus kuliah karena nilai semester yang tidak memuaskan. Disatu sisinya lagi, ada dia yang selalu minta perhatian. Sama halnya dengan manusia umum pada dasarnya. Jika diberikan dua pilihan kita pasti bakal memilih yang menjadi prioritas bagi kita.

Aku gak tau gimana rasa sakit yang saat itu dia derita. Pastinya itu sangat menyakitkan. Tapi ini semua demi kebaikan kami berdua. Dengan keputusanku ini aku bisa menjadi lebih fokus untuk belajar sedangkan dia, aku berharap agar kedepannya Mutia bisa menjadi lebih baik karena hidup gak selamanya ada yang menemani. Ada masanya kita harus berjalan sendiri-sendiri. Terus, lantaskah kamu takut untuk berjalan sendiri?


inilah alasanku kenapa mutusin dia.

Meskipun banyak yang bilang rugi kalau putusin dia, pacaran itu bukan masalah rugi dan untungnya saja. Ini lebih dari sekedar melibatkan perasaan. Meskipun saat ini bersama tiada jaminan jika esok, lusa, ataupun tahun depan masih tetap bersama juga. Oleh karena itu yang namanya cinta tak mesti bersama saat itu juga.

Sekian yang dapat aku tulis kali ini, sampai jumpa di postingan selanjutnya. See you~~~


Oh ya, kalau boleh tau, apasih alesan kalian untuk mutusin si pacar? Kalau bias tulis di cooment box ya! :D
Previous
Next Post »

2 comments

Write comments
Monday, 01 August, 2016 delete

smoga kakak dan Mutia dua2nya diberi jalan terbaik :)

Reply
avatar
Monday, 01 August, 2016 delete

iya, makasih. doakan saja :D

Reply
avatar