Komentar terbaru

Refleksi Keadaan Mahasiswa Hari Ini


Human is condemned to be free  - Jean Paul Sartre

Manusia dikutuk untuk menjadi bebas. Bebas dalam berpikir, bertindak, dan termasuk bebas dalam menentukan pilihan politik. Di kalangan mahasiswa, politik merupakan hal yang lumrah. Meskipun dalam praktiknya tidak sepenuhnya sama dengan apa yang biasa kita saksikan di televisi nasional, di mana masing-masing kader dari setiap partai, baik yang mendukung pemerintah maupun yang menentang, saling serang dan bersikeras bahwa semua yang mereka perjuangkan adalah kepentingan rakyat. Tidak. Perpolitikan mahasiswa tidak sebangsat itu. Meskipun aku tidak menampik bahwa ada sebagian yang meniru mereka--para politikus, yang sering kita lihat tampil di layar kaca.

Mahasiswa, selaku siswa tertinggi, sudah jelas bahwa tanggung jawab yang mereka emban lebih besar dan lebih berat dibandingkan siswa sekolah. Kita dituntut untuk belajar, namun di saat yang sama juga dituntut untuk menjadi penyambung lidah rakyat. Maka dari itu tidaklah cukup kiranya mahasiswa hanya membenamkan diri di bangku kuliah, sibuk dan tenggelam dalam tugas maupun soal-soal ujian. Tidak, kawan. Tanggung jawab kita lebih dari itu.

Kalau hidup sekedar hidup,
Babi di hutan juga hidup.
Kalau bekerja sekedar kerja,
kera juga bekerja

Mengutip perkataan Buya Hamka, jika kita hidup hanya sekedar hidup, babi juga hidup. Kalaulah kita merasa hidup hanya soal kerja, kera juga kerja. Enggak ada perbedaan antara kita--manusia dengan hewan. Sedang manusia adalah mahluk paling sempurna yang diciptakan oleh Sang Pencipta, mengapa kita justru malah mengkhianatinya? Selayaknya mahluk yang paling sempurna, harusnya kita bisa melakukan sesuatu yang lebih ketimbang hanya sekedar hidup, lalu bekerja, dan mati kemudian. Begitupun dengan mahasiswa. Kalau mahasiswa hanya sekedar belajar, siswa SD juga belajar. Kalau sekedar beraktivis ria, buruh pabrik juga melakukannya.

Sebagai seseorang yang menyandang status mahasiswa, cukuplah kiranya untuk tidak hanya sekedar belajar di kelas, tapi juga terlibat dalam segala kegitan aktivisme sebagai corong suara dan hati nurani rakyat. Namun kita lihat apa yang terjadi saat ini? Kebebasan yang diberikan Tuhan, yang (seharusnya) dijamin negara, dilindungi dunia internasional, digunakan oleh sebagian mahasiswa dengan cara yang keliru.

Mari kita sama-sama merenung tentang keadaan mahasiswa saat ini. Mahasiswa yang sejatinya adalah penyambung lidah rakyat, dengan sangat hina mencemplungkan dirinya ke dalam praktik politik praktis dan bergabung dengan partai-partai politik. Mahasiswa yang seharusnya netral, kini kehilangan kenetralannya. Mereka dengan sukarela mencemplungkan diri ke dalam kolam racun di mana keserakahan, kepentingan, bermula.

Kembali mari kita sama-sama berpikir. Mahasiswa yang seharusnya netral, kini kehilangan netralitasnya. Mahasiswa yang harunya kritis, kini jadi oportunis. Aku percaya, "Mahasiswa yang bergabung dengan partai politik tidak akan lagi bisa berpikir kritis."

Buru-buru berpikir kritis, kebebasan yang diberikan Tuhan saja malah mereka gunakan untuk memenjarakan dirinya di dalam "Partai Politik", yang notabene hanya fokus pada kekuasaan yang tak seberapa.

Hanya ada tiga orang yang bergabung dengan partai politik.
  1. Mereka yang serius ingin membangun negeri
  2. Penjilat yang oportunis yang hanya mementingkan kepentingan pribadi
  3. Munafik yang hanya ingin memanfaatkan kekayaan negeri
Sialnya, di negeri kita tercinta ini, nomor satu itu langka, sedangkan nomor dua dan tiga banyak berkeliaran. Jadi jangan heran kalau para anggota dewan, pejabat tinggi negara tidak bisa diharapkan.

Percayalah, mereka yang bergabung dengan partai politik selalu memiliki kepentingan dan agenda bersama. Apalagi kalau bukan untuk membagi-bagi kekuasaan? Karena tujuan dari partai politik itu sendiri adalah bagaimana selama mungkin mempertahankan kekuasaan partai. Maka dari itu, mahasiswa yang bergabung di organisasi-organisasi seperti ini adalah mahasiswa yang sesat. Mereka adalah mahasiswa-mahasiswa tersesat, tidak bisa berpikir kritis, dan tidak jujur.

Bebas saja kalau ada mahasiswa yang ingin bergabung dengan partai politik. Terserah. Itu hak dan kebebasan siapa saja. Tapi akan lebih fair kalau bergabungnya setelah lulus kuliah, saat titel mahasiswa sudah resmi kau lepas. Karena saat itu statusmu tak ubahnya rakyat biasa. Jangan bergabung saat masih aktif menjadi mahasiswa karena itu hanya akan mencemari statusmu sebagai penyambung lidah sekaligus hati nurani rakyat.

Mahasiswa seharusnya bisa berpikir adil dan kritis. Sebagaimana yang Pramoedya Ananta Toer pernah katakan, "Sebagai orang yang terpelajar sudah seharusnya berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan." Kalau saat menjadi mahasiswa saja tidak mampu berpikir kritis dan adil, bagaimana saat menjadi anggota dewan nanti?

Fenomena mahasiswa bergabung dengan partai politik maupun under bone-nya merupakan hal biasa terlebih kalau kau tinggal di Medan :)
Refleksi Keadaan Mahasiswa Hari Ini Refleksi Keadaan Mahasiswa Hari Ini Reviewed by Rizali Rusydan on July 14, 2021 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.