Komentar terbaru

Pacarku Seorang Komunis


Aku sepakat sama John Gray yang bilang "Men are from Mars Women are from Venus". Cowok dominan mengutamakan logika, sementara cewek dominan menggunakan perasaan. Bukan berarti semua cowok nggak punya perasaan, pembunuh berdarah dingin yang nggak punya hati. Dan bukan berarti juga semua cewek idiot dan tolol. Bukan. Tapi ada beberapa hal yang cewek nggak ngerti soal cowok dan begitupun sebaliknya, cowok nggak paham dengan dunianya cewek.

Sejujurnya masih banyak hal yang nggak kumengerti soal cewek. "Lagi merasa cantik," misalnya. Gak ngerti kenapa cewek suka banget gini. Apalagi pas lagi bercermin. Pas lagi bercermin, pasti dalam hati lo pernah bilang, "Bangsat. Gue cantik banget! Sumpah!" Dan seketika lo merasa cantik dan seksi layaknya Beyonce. Padahal kalau diperhatikan dengan seksama, wajah lo masih sama. Gak ada yang berubah dari sebelumnya. Gak mungkin kan, pas lo lagi ngaca dan ngerasa cantik ujug-ujug wajah lo berubah kinclong kek Ariana Grande.


Tapi ya namanya cewek, sudah fitrahnya menjadi cantik. Kalau jelek, ya nasib. Apalagi ketika foto. Enggak ada satupun cewek di dunia ini yang mau keliatan jelek pas lagi foto.

Untungnya aku adalah tipe cowok yang nggak mau ribet, jarang minta foto, pokoknya nggak cocoklah untuk dijadiin konten uwu-uwuan. Aku juga bukan cowok posesif yang selalu minta foto pacarnya tiap kali dia pergi. Mau makan, minta foto. Lagi jalan, harus kirim foto. Pokoknya sebelum ini-itu harus kirim foto dulu. Aku bukan cowok ribet dan se-enggak percaya diri itu. Namun, berhubung kami sedang menjalani hubungan jarak jauh, barulah terkadang aku minta fotonya Vanesa. Untuk santet. Jaga-jaga, seandainya dia berulah, biar langsung kutusuk saja lubang hidungnya.

Tapi ya, cewek itu memang kadang suka aneh. Apa yang nggak kita minta, dia kasih. Yang nggak kita suruh, dia buat. Sekalinya kita minta dan kita suruh, dia nggak mau atau disuruh buat sendiri. Bener kata John Gray, Men Are From Mars, Women Are From Venus.

Jujur aja. Selama pacaran sama Vanesa, aku merasa tolol. Selain itu, kesabaranku juga kerap kali diuji. Nalarku sering kali harus terbolak-balik untuk memahami maksudnya Vanesa.

Jadi pernah suatu pagi, notifikasi whatsappku tiba-tiba berdering tak karuan. Kirain pesan teror pinjaman online, pas kulihat, ternyata itu pesannya Vanesa. Aku buka pesan tersebut, lalu kubaca. Dan kau tau apa isinya? Ya, 40 foto selfie dengan baju dan latar yang sama. Yang berbeda hanyalah sudut dan posisi kepalanya. Di bawah fotonya, ditambahi caption, "Baru bangun! Aku lagi merasa cantik! Bodo amat." 

YA, TERUS KENAPA KALAU KAMU LAGI MERASA CANTIK?! 'BODO AMAT', IYA, KAMU BODO AMAT. AKUNYA DEG-DEG AN. KIRAIN PESAN TEROR DEBT COLLECTORLagian, bangun tidur bukannya baca doa, malah selfie. Dasar komunis!

Heran. Kamu berharap apa setelah ngirim begituan, hei Vanesa?!! Berharap kalau fotomu bisa jadi pelancar rezeki? Kamu bukan jenglot. Jadi nggak perlu ngelakuin itu. Lagian, tanpa kamu harus bilang 'merasa cantik' sekalipun, kamu udah cantik. Setidaknya di mataku.

Aku bingung ngeresponnya gimana. Aku bales aja, "Iya sayang. Kamu cantik. Love you more." Dibarengin emotikon cinta setelahnya. 

Vanesa enggak terima, dia mendadak sewot, kemudian balik bertanya, "Emot lovenya cuman satu??!! Dasar! Kamu nggak seneng ya kalau ngeliat aku lagi cantik?!!"

Begitulah pemirsa. Yang terjadi selanjutnya adalah perang dunia ketiga. Mungkin ini jugalah yang menjadi pemicu perang dunia kedua dulu. Pagi itu, Hitler yang kesal selepas dibentak-bentak pasangannya, lantas melampiaskan kekesalannya dengan menyerang Polandia. Perang pun pecah. Dunia dalam bahaya. Ahli sejarah tidak tau kalau semua itu sebenarnya didasari oleh perasaan Hitler yang kesal dengan pasangannya. 


Dear, Vanesa. Bukan foto selfiemu yang aku butuh, melainkan uanglah yang paling aku butuh. Kalau saja foto selfiemu memiliki harga, pastilah sudah kucetak rangkap tiga lalu kujual. Kenyataannya, kamu bukan siapa-siapa melainkan mbak-mbak gabut yang kalau lagi nggak ada kerjaan selfie. Sebenarnya aku mencintaimu karena harta orang tuamu. Kekayaan bapakmulah yang sebenarnya kuincar.

Kamu nggak perlu bilang 'lagi merasa cantik' karena tanpa kamu bilang begitupun kamu sudah seperti itu di mataku. Selama di sela-sela gigimu tidak terselip biji dan cabai, kamu akan selalu begitu di mataku. Lakukan apapun yang kamu mau karena itu pula yang aku suka darimu!

Kamu nggak harus jadi Jisoo BLACKPINK untuk menjadi sosok yang aku mau. Aku juga mawas diri. Tampang tukang becak, mana mungkin pacaran sama Jisoo yang 11-12 sama bidadari surga.

**
Setelah menulis panjang lebar menjelek-jelekkan Vanesa, aku baru ingat kalau dia juga seorang atlit bela diri, pemegang ban hitam Karate. Tak lama setelah tulisan ini diterbitkan, pasti dia akan segera membacanya. Dan kemungkinan dia bakal marah. Sialan. Mana aku nggak bisa bela diri kek Conor Mcgregor lagi. Tamat sudah riwayatku.
Pacarku Seorang Komunis Pacarku Seorang Komunis Reviewed by Rizali Rusydan on August 05, 2021 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.