Komentar terbaru

Tetangga Emang Gitu


Ada tiga hal yang paling sulit kita hindari selama hidup di dunia. Pertama, pandangan orang terhadap kita. Kedua, fitnah Dajjal. Dan yang ketiga, omongan tetangga. Apalagi kalau lo tinggal di komplek perumahan padat warga.

Tetangga itu Feni Rosenya setiap orang. Biang gosip, media utama penyalur berita, tempat di mana semua dosa ghibah bermula. Dan biasanya selalu dibuka dengan kalimat andalan, "Gini lho, buk. Bukannya aku mau mencampuri urusan orang lain ya.." lalu dilanjutkan dengan mencampuri urusan orang lain. Aku adalah salah satu korban dari ganasnya obrolan mereka.

Sebut saja dia Buk Ani. Tetangga satu lorong yang jarak rumahnya cuma belasan meter dari rumah. Beliau ini, kalau pagi jadi Ibu Rumah Tangga, siang menjelma jadi seller gosip tetangga. Tiap hari, ada aja berita baru yang bakal ia bahas. Bak host infotainment yang seolah tak pernah kehabisan bahasan. Mulai dari kabar terbaru soal artist, soal Zulaiha (tetangga komplek juga) yang sering pulang malam, sampai nuduh tetangga lain pesugihan karena baru aja beli mobil Avanza cash tanpa cicilan.

Di komplekku, Buk Ani ini termasuk sosok yang dihormati. Semua orang segan padanya. Entah beneran segan atau hanya takut digosipin olehnya. Perlahan, satu-persatu jadi objek gosipnya, tak terkecuali aku.

Hubungan keluargaku dengan Buk Ani termasuk dekat. Bukan karena ibuku juga doyan gosip, bukan. Melainkan karena aku berteman baik dengan anak-anaknya. Dio, anak ketiga Buk Ani adalah teman dekatku. Sedari kecil, kami sudah berteman bahkan hingga sekarang.

Suatu hari, tanpa tedeng aling-aling, bak geledek menyambar di siang bolong, Buk Ani cerita ke Ibu kalau Dio baru beli HP baru. "Itu si Dio, Buk, baru aja beli hp baru. Entah apalah namanya. Pokoknya ada apple applenya gitu kalau nggak salah. Ibuk tau berapa harganya? 20 juta! Gila ya anakku. Beli HP aja harganya segitu. Keliatan kali suksesnya."

Selama obrolan Ibu hanya tersenyum mendengarkan.

Lalu petaka dimulai saat aku baru saja sampai di rumah. Sebagai koboy kampus yang kuliahnya berantakan, tengah malam baru pulang, hal ini tentu jadi bahan gosip yang sempurna bagi tetangga. Baru aja selesai ngelepas helm, tiba-tiba Ibu duduk di sebelahku dan nyeletuk, "Tengok, tuh. Anak-anak orang udah sukses semua. Si Dio, kemarin baru aja beli HP puluhan juta. Kau kapan sukses? Sibuk kuliah aja. Pulang tengah malam, uang pas-pas an. Entahlah bingung Ibu ngeliat kamu."

Duniaku mendadak berhenti. Ya Allah musibah apalagi ini. Belum sempat bernafas udah dimarahi. Aku cuma diam dengerin Ibu sambil beringsut ke kamar mandi untuk cuci muka. Selepas itu, aku kembali duduk di sebelah Ibu.

"Bu, itu Dio bukan aku. Saat ini memang Dio lebih sukses, berhasil. Sementara aku cuman mahasiswa. Tapi bukan berarti aku nggak bisa sukses juga. Semua orang ada waktunya masing-masing. Memang giliranku lebih lama karena aku bandel. Tapi percayalah, Bu. Suatu hari, aku juga bakal sukses. Tunggu aja."

"Lagian, kenapa tiba-tiba Buk Ani bahas Dio yang beli HP baru. Apa hubungannya samaku? Kalau mau pamer ya pamer aja nggak usah banding-bandingin. Lain kali, Ibu bisa milih untuk dengerin Buk Ani apa nggak. Ibu juga bisa nolak kalau diajak ngobrol sama dia. Udah tua, mestinya banyak ibadah bukan banyak-banyakin ghibah." 

Aku berteman dekat dengan Dio. Perihal Buk Ani yang hobi membanding-bandingkan anaknya dengan orang lain, termasuk aku, itu seolah melaga kami berdua. Memaksa Aku dan Dio untuk saling salah paham. Seolah-olah kami ini adalah Conor McGregor dan Khabib Nurmagomedov yang dilaga, diadu, dengan obrolan dan ghibah-ghibahnya. Takutnya, ini malah merubah hubungan baik di antara kami berdua. Yang sebelumnya temenan malah jadi saling musuhan sebab omongan orang tua kami sendiri. Itu yang aku takutkan. 

Inilah bahayanya ghibah tetangga. Namun itulah realitanya. Orang-orang seperti Buk Ani ini memang ada di dunia. Orang yang selalu menjadi tempat penampungan gosip tetangga, pendongeng setia, yang sukanya membanding-bandingkan orang hingga sakit kepala.

Semenjak saat itu, Ibu jadi berani menolak tiap kali diajak ngumpul cerita. Ibu mulai berani bilang nggak. Meskipun namanya kumpul cerita-cerita, percayalah, itu isinya ghibah semua. Tidak ada kau dengar kisah-kisah nabi, malin kundang di dalamnya. Melainkan cerita tentang si anu dengan si anu, si anu ketahuan selingkuh, dan lainnya. Dan sekarang, kalau ada tetangga yang berani maksa Ibu buat ikutan, Ibu nggak segan-segan menghajar mereka dengan Muay Thai.
Tetangga Emang Gitu Tetangga Emang Gitu Reviewed by Rizali Rusydan on December 12, 2021 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.