The Secret Behind of 999 #Part2



Oke... mungkin banyak yang belum ngerti maksud judul postingan ku yang "The Secret Behind of 999".

Ini menceritakan pengalaman galau ku yang bertepatan pada tanggal 9. Kebetulan tanggal 9 yang paling galau di hidupku itu terjadi 3x, makanya aku buat judul dengan menggunakan angka triple "999". Aku tau ini cuman sebuah kebetulan belaka dan sampai sekarang aku masih suka sama angka "9" kok, bukan membenci angka "9" walau angka "9" memberikan kenangan yang buruk.
Ini menceritakan tentang 3 kejadian galau yang sempat membuat ku hampir aja mengakhiri hidup dengan minum air baterai.
Karena di postingan ku yang sebelumnya udah menceritakan 2 cerita di tanggal "9" kali ini aku bakalan nyeritakan angka "9" terakhir. Semoga kalian suka...!!!

Kegalauan ku ternyata tidak berhenti begitu saja. Baru aja aku bisa sedikit pulih dari luka hati yang sempat menyobek dan menghancur lemburkan hati ini. Ternyata aku kembali di uji, ujian itu datang ketika aku jatuh cinta dengan teman sekelas.
Ibaratnya baru aja aku ketiban durian runtuh, eh... malah ketiban sekalian sak-sak pohon nya. Mungkin, dengan kejadian ini memberikan ku sebuah pandangan baru tentang resiko mencintai seseorang.

Setelah beberapa bulan putus dengan si mantan, aku sempat mendekati salah seorang teman ku. Dia teman sekelasku, sebut saja namanya "sarimin". Orang nya sangat pemalu dan pendiam padahal kalau diajak ngobrol orang nya itu nyambung dan pacarable banget lah. Kalau dalam bahasa jepang, dialah wanita yang disebut dengan tipikal cewek tsundere!
Aku kenal sama dia, ketika sedang twitteran. Aku tengok kok macam nya gak asing namanya, maklum aku sempat gak kenal karena kami kelas 10 nya dulu pisah kelas. Aku kelas X-4 dia kelas X-5, jadi ketika kelas XI kami disatukan dari berbagai kelas dari mulai kelas X-3-X-11.
Gak lama setelah saling follow, kamipun saling DM an karena aku mau minta nomor HP nya. Nomor HP dapat, seperti anak muda biasanya, dimulailah acara PDKTan. Ntah kenapa aku merasa cocok sama dia, mungkin, inilah yang namanya cinta datang diwaktu yang tepat untuk menyembuhkan hati yang pernah terluka.

Udah lama kami sering sms an, tapi tetap aja kami jarang bertegur sapa. Maklum, melihat daerah tempat aku duduk dengan tempat duduk nya sang gebetan cukup jauh. Aku duduk paling belakang, dia duduk paling depan di sudut kanan lagi -__- Kali ini aku naikkan predikat dia yang tadinya teman menjadi gebetan biar lebih asyik aja. 
Tapi, yang namanya cinta itu gak pernah semulus jidat si "Jenong" Teman sekelas aku yang memiliki ukuran jidat yang abnormal. Jidatnya udah mirip kayak tempat landing pesawat. Mulus... iya mulus, kinclong iya... kinclong, itu jidat apa aspal jalan raya medan-binjai kok luas kali.
Seandainya, ada kejuaraan jidat nasional antar SMA, mungkin, dia yang bakalan diutus sekolah untuk bertanding. 

Sebelum mendekati si sarimin, aku udah tau konsekuensi yang menunggu ku selanjutnya. iya... itu adalah "Patah Hati" dibalik cinta selalu terdapat patah hati. Karena udah lama saling dekatan, akupun memberanikan diri untuk mengungkapan perasaan ku. Mungkin, itu terlalu cepat karena waktu itu aku PDKT nya cuman 2 minggu. Ah... bodoamat namanya juga usaha.
Aku sms dia malam hari dan waktu yang pas pun datang.

"Min... kamu tau kan kalau kedekatan ku ini ada maksudnya"
"Maksud...? berarti kamu selama ini memanfaatkan aku ya?
"-__- Sebenarnya kamu Aku suka sama kamu lho"
"Terus....?"
"Yaudah aku suka sama kamu, kamu ngerti kan?" 
"KAGAK...!" Sambil monyongin bibir niru wakwau.
"Serius... lah ini aku beneran lho"
"iya... aku ngerti kok, tapi maaf ya kita bagus temenan aja karena gak enak nanti kalau kita pacaran, kalau putus takutnya jadi musuhan"
*Bengong sambil ngeluarkan buih*
Inilah yang namanya resiko untuk mencintai seorang wanita, harus siap patah hati.

Semenjak kejadian tersebut, aku sempat terkena demam galau. Kalau hujan bawa'an nya pengen natap hujan dari jendela, lalu teriak "kamu kok tega?"
Tapi, semenjak ada kata penolakan yang dia ucapkan, aku masih tetap dekat sama dia kok bukan ngejauhin. Ini aku lakukan sebagai usahaku bahwa aku memang bener-bener suka sama dia bukan cuman OMDO.

Berminggu-minggu setelah kejadian tersebut, ntah kenapa kami semakin dekat. Dulu asal sms selalu aku yang peduli dan bertanya kepadanya, tapi, semenjak aku mengatakan rasa suka itu, walau dia menolaknya, ntah kenapa aku melihat kalau dia merespon jawaban ku belakangan ini. walau itu sangat lama setelah penolakan tersebut. Dia yang gantian sering peduli dan nanya-nanya aku, inilah yang namanya rezeki anak sholeh.
Kalau nengok kejadian gini, aku jadi teringat lagunya mas Ari Lasso yang lyric nya 

" Sentuhlah dia tepat dihatinya.... biar kan jadi milikmu selamanya.
Sentuh dengan setulus cinta, biarkan dia terbang mela....yang."
Ingat! sentuhlah dia tepat dihatinya, bukan itunya, oke!

Wanita itu gitu, seandainya kita ditolak cintanya, kita jangan nyerah kita juga harus menunjukkan kesungguhan kita. Kalau kita memang sungguh-sungguh mengungkapkan rasa suka kepadanya bukan main-main. Diterima atau enggak nya itu... cuman dialah yang berhak menilainya.

Yah... namanya udah usaha, pasti bakalan diganti hasil kerja keras kita dengan yang kita inginkan. Akhirnya, kamipun berpacaran. Sebetulnya, gak bisa dibilang pacaran sih... karena dia masih gak mau pacaran. Hubungan kami cuman sebatas teman tapi yah... gitulah lumayan mesra.
Kali itu dunia serasa milikku, apa yang kutuju akhirnya tercapai. Kami saling menyanyangi waktu itu tanpa mengenal status kami yang bukan pacaran. Kami tahu cinta itu gak mesti memiliki hubungan status, cinta itu bebas harus tanpa ada status kamipun berhak memilikinya. Biar lebih keren, kami pun membuat tanggal jadian, pada tanggal: 9. Iya mengingat kalau angka 9 adalah angka kesukaan ku.

Yang namanya kebaikan, pasti ada kejahatan dibaliknya.
Begitu juga dengan kebahagiaan, pasti ada kesedihan dibaliknya.
Benar saja! Kesedihan itu datang setelah kami kurang lebih 2 bulan dekat.
Kesedihan itu terjadi, ketika kami di dalam kelas. Saat itu sedang pelajaran Bahasa Indonesia dan materinya adalah memimpin rapat.
Karena materi udah selesai, gurupun mulai bercanda dengan menanyakan siapa yang pacaran di kelas ku.
Macam gak tau anak SMA aja, kalau udah cerita pacaran itu gak ada habisnya, kayak konflik antara juve dengan dewi persik, gak ada habisnya.
Mulai dari saling sorak-menyoraki:

"cie.... itu buk, si anu berpacaran sama si anu..."
"cie... itu buk, si anu berpacaran dengan si panu"
"cie... itu buk, si anu lagi terkincit di sudut kelas, cie...."
sampai akhirnya, ketika temen-temen sepakat buat nyoraki nama aku dan sarimin.
Sontak si ibuk guru langsung nanya, "Hah... Rizali pacaran dengan si sarimin?"
"Itu sarimin gak salah milih. Apa matanya gak picek kok bisa milih si Rizali yang berandalan dan bandel di kelas. Oh iya sarimin gak buta kan kok bisa milih cowok kayak si rizali?'
Sarimin: "enggak buk" sambil tertunduk layu.

"Ini ngatain aku atau ngatain anak badak albino yang pacaran dengan seorang wanita, kok kasar kali, macam bukan manusia aku dibuatnya. Wajarlah kalau aku suka sama sarimin namanya aku bukan HOMO". gumamku dalam hati.

Mendengar perkataan si guru, aku tengagak sambil mendelik kayak barusan makan 1 buah truck sampah. Aku shock, aku naik pitam karena dikatain brandalan. Aku kan gak brandalan, gak suka ganggu orang, ganggu wanita cuman suka godain ibuk kantin. Itukan bukan sebuah kejahatan.
Sebetulnya, aku bisa saja melawan perkataan nya cuman aku tahu kalau dia udah tua dan dia punya penyakit strock. Takutnya, ketika aku melawan dia gantian dia yang strock mangap-mangap sambil ngeluarkan busa dari hidung.
Ku urungkan niat ku untuk melawan si guru, karena mengingat kalau dia itu guruku pendidikku. Tapi, sayang sikapnya siang itu gak terlihat seperti seorang pendidik, aku menyedihkan hal itu.
Mana ada guru yang mau maki-maki dan jatuhkan image muridnya di depan semua teman-teman sekelas. Kalau ada, mungkin, itu sama kayak guruku.
Resiko siswa yang di cap bandal padahal gak bandal yah beginilah. Setiap kasus kejahatan disekolah pasti anak-anak yang kurang baik selalu menjadi sasaran nya. Padahal yang namanya kejahatan gak mandang dia baik atau jahat. Siapa sajapun bisa terlibat di dalam nya.

Sampai dirumah aku langsung sms dia dan mengatakan kalau kami sebaiknya putus dan gak melanjutkan hubungan ini. Ini sudah aku pertimbangkan dengan matang, semua ini demi kebaikan nya. Aku gak mau dia terlihat jelek imagenya gara-gara dekat dengan seorang siswa yang agak berandalan.
Inilah kesalahanku yang sebenarnya, aku memutuskan nya secara sepihak. Padahal info yang aku dapatkan setelah kami putus, dia gak mau putus dia mau cuman agak di kurangi atau backstreet biar orang-orang gak pada tahu.
Nasi sudah menjadi bubur, bubur gak mungkin lagi jadi nasi. Kalaupun jadi palingan itu nasi basi.

Aku ingat ketika kami putus ada sebuah film yang judulnya "9" lagi ditayangkan, ketika aku sedang menonton TV.
Film boneka-boneka kecil kuning yang mirip minions yang misinya menyelamati kawanan mereka yang berjumlah 9 orang.
Judul film tersebut membuatku galau dan mengulang kembali sebuah kenangan yang pernah terjadi pada tanggal "9". Ntah karena alay atau karena apa, judul film tersebut membuat ku mengingat kembali tentang hubungan dua orang insan yang saling suka, tapi cinta mereka hanyalah cinta kalangan minoritas.

Inilah ending dari judul postingan ku "The Secret behind of 999". Kejadian dengan sarimin ini adalah penutup dari triple 9 yang aku jadikan judul postingan. Walau tanggal 9 waktu itu mengecewakan ku, tapi aku gak pernah benci dengan angka dan tanggal 9. Angka 9 tetap menjadi angka kesukaanku. 

Apasih kejadian kalian yang paling galau selama SMA?
Share di comment box ya!
Previous
Next Post »

10 comments

Write comments
Inda Chakim
AUTHOR
Friday, 30 January, 2015 delete

Iya sama, gitu itu dah.
Hadeeehhhh, kasian kali kau ya bang, endingnya jadi begetoh. Kirain happy. Oke dah selamat menemukan kisah spesial lg di angka 9.

Reply
avatar
Inda Chakim
AUTHOR
Friday, 30 January, 2015 delete

Iya sama, gitu itu dah.
Hadeeehhhh, kasian kali kau ya bang, endingnya jadi begetoh. Kirain happy. Oke dah selamat menemukan kisah spesial lg di angka 9.

Reply
avatar
i Jeverson
AUTHOR
Friday, 30 January, 2015 delete

hahaha, awas fobia angka 9.
setau gue itu film 9 nggak ada mirip-miripnya sama minnion -__-

Reply
avatar
iilajah doank
AUTHOR
Saturday, 31 January, 2015 delete

yang awal nembak sih menurut saya,, wajarlah ditolak,, nembak ko lewat sms, gak keliatan seriusnya :p
eh bubur sebenarnya bisa jadi enak looh asal ditambah toping aja,, mau dikasih ayam atau jadi bubur manis :D
kalau emang beneran demen sih seharusnya diperjuangin!

Reply
avatar
Saturday, 31 January, 2015 delete

Mbak ini kenapa comment nya sampe 2x ketagihan ya hahah....
oke do'akan aja semoga tnggal 9 selanjutnya punya pacar

Reply
avatar
Saturday, 31 January, 2015 delete

haha iyasih mau nembak langsung takutnya dia mati pulak di pendak

Reply
avatar
Saturday, 31 January, 2015 delete

iyanya? maaf aku bukan pengamat film hahah

Reply
avatar
nur shodiq
AUTHOR
Saturday, 07 February, 2015 delete

Oh ini ternyata part 2nya. Ternyata gak heppy endingnya... galau lagi.

Reply
avatar
dsukmana
AUTHOR
Thursday, 23 April, 2015 delete

ini curhat ya kak :D

Reply
avatar
rifandi harun
AUTHOR
Monday, 27 April, 2015 delete

Kalau ingat masih SMA dulu, tujuan pacaran sih masih mainstream..alias krna teman2 lain udah punya pacar, sbg ajang eksistensi dll..mngkin krna kiat yg belum tulus mknya belum jodoh..haha
Tetap berjuang bang..saya yakin akan ada sarimin yang lain yg sdang menanti anda..haha

Reply
avatar